Rabu, 17 Februari 2016

Between House and Home

"Mbak Ni  kaos kaki ku ning ndi?" 

"Mbak Ni dasiku kok gak enek?"


"Mbak Ni gawekno teh anget"



"Mbak Ni..."



"Mbak Ni.."



Tiba-tiba aku mendengar suaraku berteriak seperti itu di dalam pikiranku setelah aku melewati rumah lama yang ada di Jalan Gianti No 27, Kampungbaru, Cepu. Rumah yang aku tinggali selama kurang lebih 17 tahun. Kalau dulu biasanya selalu ada yang mendampingi, melayani setiap hari bak seorang puteri, sekarang sudah sangat berbeda. Pertama mungkin karena aku sudah besar (apa iya ya?), kedua mungkin karena tidak bisa lagi.


Betapa aku sangat terharu untuk mengingat masa yang sempat aku pikir itu adalah masa paling menyenangkan dan membahagiakan. Segala yang aku inginkan ada dan cukup, memiliki keluarga yang utuh, memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang. Aku sempat merasa tidak ada yang kurang dari hidupku dulu. Sangat cukup dan menyenangkan !

Teringat setiap bangun tidur di pagi hari aku melihat meja tempat kerja Bapak (adalah panggilan untuk saudaraku yang tinggal serumah dengan keluargaku). Setiap sarapan nasi pecel is the most favorite food pada masa itu. Setiap sekolah dijemput Pak Jan yang dengan semangat mengayuh becaknya untuk mengantarku ke sekolah.

Rumahku tidak pernah sepi kecuali saat hari lebaran, karena para pekerja libur dan keluarga Bapakpun pulang kampung. Rasanya selalu homey, nyaman, dan happy.  
Hal yang paling aku rindukan dari rumah itu adalah tidak pernah aku merasa kesepian di sana, karena selalu ada Mama, Papa, Mas Zendy, Dio, Anggun, Ibu, Bapak, Mbak Linda dan banyak karyawan yang bekerja. I miss them so much. I miss my home very very much. Indeed!

Semakin kesini aku semakin menyadari bahwa rumahku yang dulu adalah sebatas tempat singgah, tempat aku bertemu dengan banyak orang termasuk keluarga. Tapi bukan tempat untuk berbagi rasa sedih, senang dan sebagainya. Banyak orang di dalamnya tapi lewat hanya sebatas lewat tanpa melihat, tanpa merasa harus bisa lebih dekat. Rumah yang bisa dibilang cukup besar itu seperti tidak membuat aku dekat dengan orang-orang di dalamnya, walaupun sadar bahwa aku tidak sendiri di sana sekarang aku tahu kalau aku hanya senang karena selalu ada orang.

Di rumah yang berbeda sekarang kita sekeluarga yang sekarang tinggal ada Aku, Anggun, Mama dan Mas Zendy sama-sama berusaha mengembalikan  dan membangun "rumah" yang tidak lagi sama. Kita selalu percaya dengan keadaan yang berbeda ini kehidupan bisa menjadi semakin baik, kita semakin dekat dengan rumah mungil yang kita miliki. Tapi aku rasa tak masalah, dengan rumah mungil ini kita sekarang memiliki "rumah" yang besar di hati kita masing-masing walaupun kita tidak sedang berada di tempat yang sama.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar